Memahami materi kuliah tidak cukup dengan membaca ulang catatan berkali-kali. Mahasiswa juga perlu menguji apakah mereka benar-benar mengetahui alasan, hubungan, dan penerapan dari konsep yang dipelajari. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah elaborative interrogation, yaitu kebiasaan mengajukan dan menjawab pertanyaan “mengapa?” terhadap suatu informasi.
Dalam praktiknya, strategi ini membantu mahasiswa menghubungkan pengetahuan baru dengan hal yang sudah dikenal. Alih-alih hanya mengingat bahwa suatu konsep benar, mahasiswa berusaha menjelaskan alasan di baliknya, hubungan sebab-akibatnya, contoh konkretnya, atau cara menerapkannya pada situasi lain.
Apa Itu Elaborative Interrogation?
Elaborative interrogation adalah strategi belajar aktif yang menggunakan pertanyaan penjelas, terutama pertanyaan “mengapa hal ini terjadi?” atau “mengapa pernyataan ini benar?”. Pertanyaan tersebut mendorong mahasiswa membangun hubungan antara fakta atau konsep baru dan pengetahuan yang telah dimiliki.
Contohnya, ketika mempelajari konsep inflasi, mahasiswa tidak berhenti pada definisi bahwa inflasi merupakan kenaikan harga secara umum. Mereka dapat bertanya: “Mengapa peningkatan jumlah uang yang beredar dapat berkaitan dengan inflasi?” atau “Mengapa kenaikan harga satu barang saja belum tentu disebut inflasi?”
Jawaban atas pertanyaan itu menuntut penjelasan, bukan sekadar pengulangan definisi. Proses inilah yang membuat belajar menjadi lebih elaboratif.
Mengapa Pertanyaan “Mengapa?” Membantu Pemahaman?
Pertanyaan “mengapa?” mengarahkan perhatian pada alasan dan hubungan antargagasan. Mahasiswa perlu mengaktifkan pengetahuan sebelumnya, mencari kaitan dengan materi baru, lalu menyusun penjelasan yang masuk akal.
Strategi ini juga membantu mengubah konsep abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Penjelasan verbal dapat diperkuat dengan contoh konkret, peristiwa sehari-hari, diagram sederhana, atau kasus dari bidang studi yang sedang dipelajari. Misalnya, konsep gaya dalam fisika dapat dikaitkan dengan pengalaman mendorong benda, sedangkan konsep dalam psikologi dapat dijelaskan melalui perilaku yang dapat diamati.
Namun, elaborasi bukan berarti bebas menghubungkan semua hal. Hubungan yang dibuat harus diperiksa agar tidak menghasilkan penjelasan yang keliru atau tidak lengkap.
Cara Menerapkan Elaborative Interrogation untuk Mahasiswa
1. Tentukan konsep utama
Pilih satu konsep, prinsip, atau hubungan sebab-akibat dari materi kuliah. Mulailah dari gagasan yang penting, bukan dari setiap kalimat dalam buku. Strategi ini paling sesuai untuk materi yang membutuhkan pemahaman konseptual.
2. Ajukan pertanyaan “mengapa?”
Tuliskan pertanyaan yang meminta alasan. Hindari pertanyaan yang jawabannya hanya “ya” atau “tidak”. Contohnya:
- Mengapa konsep ini berlaku dalam kondisi tertentu?
- Mengapa penyebab tersebut dapat menghasilkan akibat ini?
- Mengapa langkah tersebut diperlukan?
- Mengapa contoh ini sesuai dengan konsep yang dipelajari?
3. Jawab tanpa membuka buku
Cobalah menjawab menggunakan ingatan sendiri sebelum melihat catatan. Langkah ini menambahkan unsur retrieval practice, yaitu latihan mengambil kembali informasi dari memori. Selain memperkuat ingatan, cara ini membantu menunjukkan bagian yang belum dipahami.
4. Hubungkan dengan pengetahuan yang sudah ada
Setelah memberikan jawaban awal, tanyakan hal berikut: “Apa yang sudah saya ketahui dan berkaitan dengan konsep ini?” atau “Contoh apa yang dapat menggambarkan hubungan tersebut?” Hubungan dengan pengetahuan lama akan lebih bermanfaat jika dibuat secara jelas dan relevan.
5. Gunakan contoh konkret
Jelaskan konsep melalui kasus, peristiwa, atau situasi yang dapat dibayangkan. Jika konsepnya abstrak, buat dua contoh: satu yang sesuai dan satu yang tidak sesuai. Perbandingan ini membantu memperjelas batas penggunaan suatu konsep.
6. Periksa dan perbaiki jawaban
Buka kembali buku atau catatan untuk memeriksa ketepatan penjelasan. Tandai bagian yang salah, terlalu umum, atau belum memiliki alasan yang kuat. Setelah itu, tulis ulang jawaban secara lebih akurat. Pemeriksaan ini penting karena mahasiswa dapat membangun hubungan yang tampak masuk akal tetapi sebenarnya keliru.
Contoh Penerapan pada Berbagai Mata Kuliah
Biologi
Konsep: tumbuhan melakukan fotosintesis. Pertanyaan: “Mengapa cahaya diperlukan dalam fotosintesis?” Jawaban elaboratif perlu menghubungkan cahaya dengan proses yang memungkinkan tumbuhan menghasilkan energi kimia, bukan hanya mengulang bahwa cahaya adalah salah satu syaratnya.
Sejarah
Konsep: suatu peristiwa memengaruhi perubahan politik. Pertanyaan: “Mengapa peristiwa tersebut dapat memicu perubahan politik?” Mahasiswa dapat menjelaskan kondisi sebelumnya, pihak yang terlibat, serta hubungan antara peristiwa dan akibatnya.
Ekonomi
Konsep: harga dapat memengaruhi jumlah permintaan. Pertanyaan: “Mengapa perubahan harga dapat mengubah keputusan konsumen?” Jawaban sebaiknya dikaitkan dengan daya beli, pilihan alternatif, dan kondisi yang membuat hubungan tersebut berlaku.
Hukum
Konsep: suatu aturan diterapkan pada kasus tertentu. Pertanyaan: “Mengapa aturan ini relevan untuk kasus tersebut?” Mahasiswa perlu menghubungkan unsur kasus dengan ketentuan yang digunakan, termasuk menjelaskan apabila ada batasan penerapannya.
Template Pertanyaan untuk Sesi Belajar
Gunakan template berikut ketika membaca materi atau meninjau catatan:
- Konsep: Apa gagasan utama yang sedang saya pelajari?
- Alasan: Mengapa gagasan ini benar atau penting?
- Sebab-akibat: Apa yang menyebabkan hal ini, dan apa akibatnya?
- Koneksi: Pengetahuan lama apa yang berkaitan dengan konsep ini?
- Contoh: Situasi konkret apa yang menggambarkannya?
- Batasan: Kapan penjelasan ini tidak berlaku?
- Penerapan: Bagaimana konsep ini digunakan untuk menjawab persoalan baru?
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Pertama, jangan menganggap membaca ulang sebagai elaborasi. Membaca ulang dapat membantu mengenali informasi, tetapi belum tentu melatih kemampuan menjelaskan. Elaborasi terjadi ketika mahasiswa aktif menyusun hubungan dan alasan.
Kedua, jangan memaksakan strategi ini pada semua jenis materi. Untuk istilah dasar, simbol, atau fakta yang benar-benar baru, mahasiswa mungkin perlu mempelajari fondasinya terlebih dahulu. Elaborative interrogation juga tidak menggantikan latihan soal, terutama pada mata kuliah yang membutuhkan prosedur atau perhitungan.
Ketiga, hindari jawaban yang hanya mengulang pertanyaan. Jawaban “hal ini terjadi karena merupakan bagian dari proses tersebut” belum memberikan penjelasan yang berarti. Tambahkan mekanisme, hubungan, contoh, atau kondisi yang relevan.
Keempat, jangan melewatkan umpan balik. Jawaban yang tidak diperiksa dapat membuat kesalahan konsep bertahan. Bandingkan jawaban dengan bahan kuliah, pembahasan dosen, atau penjelasan yang telah terverifikasi.
Cara Menilai Apakah Strategi Ini Efektif
Efektivitas belajar tidak cukup dinilai dari perasaan bahwa materi terasa familier. Setelah menggunakan strategi ini, tutup buku dan coba jelaskan konsep dengan kata-kata sendiri. Kemudian uji diri dengan pertanyaan baru yang tidak persis sama dengan contoh sebelumnya.
Periksa juga apakah Anda dapat menerapkan konsep pada contoh yang berbeda. Jika hanya mampu menjawab pertanyaan yang sudah dihafalkan, elaborasi mungkin belum cukup mendalam. Sebaliknya, kemampuan menjelaskan alasan, membedakan contoh, dan menerapkan konsep pada situasi baru menunjukkan pemahaman yang lebih kuat.
Padukan dengan Strategi Belajar Lain
Elaborative interrogation akan lebih bermanfaat jika dipadukan dengan latihan terdistribusi, yaitu meninjau materi dalam beberapa sesi yang berjeda. Gunakan retrieval practice secara rutin, periksa jawaban, lalu lakukan latihan penerapan.
Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti pada pertanyaan “mengapa?”. Mahasiswa juga menguji ketepatan jawaban, memperbaiki kesalahan, dan menggunakan pengetahuan dalam konteks baru. Mulailah dari satu konsep pada setiap sesi, ajukan beberapa pertanyaan mendalam, lalu catat bagian yang masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.








