Dosen PNC Kembangkan EWS Multi-Sensor untuk Banjir

Williams Brown

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolor, alias aspernatur quam voluptates sint, dolore doloribus voluptas labore temporibus earum eveniet, reiciendis.

Categories


Stasiun sensor pemantau banjir bertenaga surya di tepi sungai dengan latar permukiman dan langit mendung

Tim dosen Politeknik Negeri Cilacap (PNC) meraih Anugerah Karya Riset Pembangunan Jawa Tengah 2026 melalui inovasi Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir Menggunakan Multi Sensor dengan Topologi Bintang. Penghargaan tersebut diterima pada 15 Oktober 2026 di Semarang dalam ajang Gelar Karya Riset Pembangunan dan Menulis Berdampak 2026.

Inovasi yang dikenal sebagai EWS multi-sensor PNC itu dikembangkan oleh Erna Alimudin, Arif Sumardiono, dan Zaenurrohman. Berdasarkan informasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang dikonfirmasi melalui laman resmi PNC pada 16 Oktober 2026, sistem tersebut dirancang untuk membantu masyarakat memperoleh peringatan lebih awal ketika kondisi banjir mulai mencapai tingkat siaga.

Pengembang menyebut sistem ini berpotensi menyediakan waktu evakuasi sekitar 90 hingga 120 menit sebelum air merendam kawasan hunian. Durasi tersebut bukan jaminan yang berlaku untuk semua lokasi, karena waktu datangnya banjir dipengaruhi kondisi sungai, curah hujan, topografi, serta karakter wilayah. Namun, kemampuan menyediakan jeda pemantauan dan peringatan menjadi bagian penting dari teknologi mitigasi bencana.

Cara kerja EWS multi-sensor PNC

Sistem PNC dirancang untuk wilayah yang rentan terhadap banjir luapan sungai, termasuk Desa Mujur Lor, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Arsitekturnya menggunakan sedikitnya tiga stasiun pemantau yang terhubung dalam topologi bintang. Dengan susunan ini, sejumlah titik pemantauan dapat mengirimkan data menuju pusat sistem untuk dipantau secara terpadu.

Komunikasi data memanfaatkan kombinasi LoRa dan GSM. Penggunaan dua jalur komunikasi tersebut ditujukan untuk menjaga pengiriman informasi ketika salah satu titik atau jaringan mengalami gangguan. Dalam konteks kebencanaan, keberagaman jalur komunikasi menjadi unsur penting karena banjir dapat mengganggu infrastruktur listrik, jaringan telekomunikasi, maupun akses menuju lokasi pemantauan.

Perangkat memantau lima parameter lingkungan secara bersamaan, yaitu ketinggian muka air, curah hujan, kecepatan angin, suhu udara, dan kelembapan udara. Data hidrologi dikirim secara otomatis setiap menit dan divisualisasikan melalui dashboard GIS. Informasi tersebut dapat membantu pemantau melihat perubahan kondisi secara berkala sekaligus mendukung perencanaan evakuasi.

Pemantauan beberapa parameter secara bersamaan memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan pengamatan satu indikator saja. Ketinggian muka air dapat menunjukkan perubahan langsung pada badan air, sedangkan curah hujan dan kondisi atmosfer membantu memberikan konteks terhadap potensi perubahan situasi. Meski demikian, penentuan ambang siaga tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik sungai dan kawasan yang dipantau.

Peringatan melalui sirene dan papan LED

Ketika muka air mencapai ambang siaga yang telah ditentukan, sistem dapat mengaktifkan sirene dan papan LED. Mekanisme tersebut memungkinkan informasi peringatan disampaikan melalui perangkat lokal, tidak hanya melalui dashboard pemantauan.

Sirene dapat menjadi penanda yang mudah dikenali oleh masyarakat di sekitar titik pemasangan, sedangkan papan LED dapat menyampaikan informasi visual mengenai kondisi siaga. Penggunaan keduanya perlu didukung prosedur komunikasi yang jelas agar warga memahami arti setiap tingkat peringatan dan tindakan yang harus dilakukan.

Dalam penerapan sistem peringatan dini, teknologi bukan satu-satunya faktor penentu keselamatan. Peringatan harus terhubung dengan rencana evakuasi, jalur menuju tempat aman, pembagian peran antarpetugas, serta mekanisme penyampaian informasi kepada kelompok yang membutuhkan bantuan. Karena itu, data dari perangkat perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang cepat dan terkoordinasi.

Beroperasi saat listrik terganggu

EWS multi-sensor PNC menggunakan panel surya dan baterai agar perangkat dapat tetap bekerja secara mandiri ketika pasokan listrik umum terganggu. Fitur ini relevan untuk wilayah yang menghadapi kemungkinan pemadaman saat hujan lebat atau banjir.

Kemandirian energi dapat membantu menjaga fungsi pemantauan dan peringatan pada kondisi darurat. Namun, keberlanjutan pengoperasian tetap bergantung pada pemeliharaan panel, kondisi baterai, perlindungan perangkat dari cuaca, serta pemeriksaan berkala terhadap sensor dan sistem komunikasi.

Inovasi tersebut telah memiliki Sertifikat Paten Indonesia Nomor IDP000011108 dan disebut mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi Level 7. Pencapaian itu menunjukkan perkembangan teknologi terapan dari lingkungan perguruan tinggi vokasi, sekaligus memperlihatkan upaya menghubungkan kegiatan riset dengan kebutuhan keselamatan masyarakat.

Relevansi bagi daerah rawan banjir, termasuk Kerinci

Pengalaman pengembangan di Cilacap dapat menjadi bahan pembelajaran bagi daerah lain yang memiliki risiko banjir luapan sungai. Kabupaten Kerinci, misalnya, memerlukan pendekatan mitigasi yang mempertimbangkan kondisi sungai, pola hujan, kontur wilayah, sebaran permukiman, dan ketersediaan jaringan komunikasi di setiap lokasi.

Relevansi teknologi tidak berarti sistem dapat langsung dipasang tanpa penyesuaian. Jumlah stasiun, posisi sensor, ambang muka air, sumber energi, serta jalur penyebaran peringatan perlu ditentukan berdasarkan kajian lapangan. Data historis dan karakter banjir setempat juga penting untuk menilai apakah waktu peringatan yang diharapkan dapat tercapai.

Penerapan di wilayah lain idealnya diawali pemetaan risiko dan identifikasi kebutuhan masyarakat. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, pengelola infrastruktur, serta warga perlu menyepakati siapa yang bertugas memantau dashboard, memverifikasi peringatan, mengaktifkan prosedur tanggap darurat, dan mengevaluasi kinerja sistem.

Pentingnya pengujian lapangan dan koordinasi

Sebelum digunakan di daerah baru, EWS multi-sensor perlu melalui pengujian lapangan dalam kondisi yang mewakili tantangan setempat. Pengujian dapat mencakup ketepatan pembacaan sensor, kecepatan pengiriman data setiap menit, keandalan LoRa dan GSM, ketahanan panel surya serta baterai, dan respons sirene maupun papan LED.

Pengujian juga perlu mengukur keterhubungan antara peringatan teknis dan tindakan masyarakat. Sistem yang mampu mendeteksi kenaikan muka air harus disertai prosedur untuk memastikan informasi diterima, dipahami, dan ditindaklanjuti. Simulasi evakuasi dapat membantu menemukan kendala yang tidak terlihat dalam pengujian perangkat saja.

Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjadi langkah penting sebelum penerapan di wilayah lain. BPBD dapat membantu menyelaraskan ambang peringatan, rencana kontinjensi, jalur evakuasi, serta pembagian kewenangan ketika peringatan dikeluarkan. Kolaborasi tersebut juga diperlukan agar data dari sistem mendukung mekanisme resmi penanggulangan bencana, bukan berjalan sebagai perangkat yang terpisah.

Riset PNC memperlihatkan kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan teknologi yang berorientasi pada persoalan nyata. EWS multi-sensor bukan pengganti kesiapsiagaan masyarakat dan kelembagaan, melainkan salah satu alat untuk memperpanjang waktu pengambilan keputusan. Dengan validasi, pemeliharaan, dan koordinasi yang memadai, inovasi semacam ini dapat menjadi bagian dari strategi mitigasi banjir yang lebih terukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *