Pretesting untuk Mahasiswa: Mengapa Mencoba Menjawab sebelum Belajar Bisa Membantu?

Williams Brown

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolor, alias aspernatur quam voluptates sint, dolore doloribus voluptas labore temporibus earum eveniet, reiciendis.

Categories


Mahasiswa menulis pertanyaan awal di buku catatan sebelum mempelajari materi kuliah

Banyak mahasiswa langsung membaca seluruh bab, menonton rekaman kuliah, atau menyalin catatan ketika mulai belajar. Ada cara sederhana yang dapat dilakukan sebelum semua itu: mencoba menjawab beberapa pertanyaan tentang materi, meskipun belum yakin dengan jawabannya. Kegiatan ini disebut pretesting.

Pretesting untuk mahasiswa bukan tes yang bertujuan memberi nilai. Fungsinya adalah membuka sesi belajar dengan melihat apa yang sudah diketahui, apa yang belum dipahami, dan bagian mana yang perlu mendapat perhatian. Hasilnya tidak harus benar sejak awal. Yang penting, jawaban tersebut kemudian dibandingkan dengan materi atau umpan balik yang tepercaya.

Apa yang dimaksud dengan pretesting?

Pretesting adalah upaya menjawab pertanyaan tentang suatu materi sebelum mempelajari materi tersebut secara menyeluruh. Pertanyaan dapat dibuat oleh mahasiswa, diambil dari tujuan pembelajaran, atau disiapkan dari judul dan subjudul dalam bahan kuliah.

Misalnya, sebelum membaca bab tentang fotosintesis, mahasiswa dapat mencoba menjawab: “Apa fungsi utama fotosintesis?”, “Faktor apa yang mungkin memengaruhi prosesnya?”, atau “Mengapa tumbuhan membutuhkan cahaya?” Jawaban awal mungkin belum lengkap atau bahkan keliru. Setelah membaca materi, mahasiswa kembali memeriksa jawaban tersebut.

Dengan demikian, pretesting berbeda dari evaluasi formal. Kegiatan ini tidak dirancang untuk menentukan kelulusan dan tidak menggantikan pembelajaran utama. Pretesting hanyalah pembuka yang membantu mahasiswa memasuki materi dengan pertanyaan dan perhatian yang lebih terarah.

Mengapa mencoba menjawab sebelum belajar?

1. Mengaktifkan pengetahuan awal

Ketika mencoba menjawab, mahasiswa mengingat hal-hal yang pernah dipelajari atau diketahui sebelumnya. Pengetahuan awal ini dapat menjadi titik pembanding saat membaca penjelasan baru. Mahasiswa juga dapat menyadari bahwa suatu istilah terasa familiar, tetapi maknanya belum benar-benar dipahami.

2. Menemukan celah pemahaman

Jawaban yang tidak lengkap atau tidak yakin menunjukkan bagian yang perlu diperiksa. Daripada membaca semua bagian dengan perhatian yang sama, mahasiswa dapat memberi perhatian lebih pada konsep yang belum dikuasai. Namun, penilaian diri tetap perlu dibandingkan dengan jawaban atau umpan balik yang benar karena seseorang dapat merasa yakin terhadap jawaban yang ternyata keliru.

3. Mengarahkan perhatian saat belajar

Pertanyaan awal berfungsi seperti tujuan kecil dalam sesi belajar. Saat membaca, mahasiswa dapat mencari penjelasan yang menjawab pertanyaan tersebut, memeriksa hubungan sebab-akibat, dan menandai istilah yang belum jelas. Ini membantu kegiatan belajar menjadi lebih aktif daripada sekadar melewati halaman demi halaman.

Apa batasan pretesting?

Pretesting tidak boleh dipahami sebagai strategi yang selalu meningkatkan nilai ujian. Panduan What Works Clearinghouse membedakan penggunaan pertanyaan awal untuk memperkenalkan topik baru, yang memiliki tingkat bukti minimal, dari penggunaan kuis untuk mengekspos kembali materi yang memiliki dukungan bukti lebih kuat.

Perbedaan ini penting. Mencoba menjawab sebelum belajar dapat membantu mengarahkan perhatian dan mengenali kesenjangan pemahaman, tetapi manfaatnya bergantung pada tindak lanjut. Jika jawaban yang salah dibiarkan tanpa koreksi, kegiatan tersebut tidak cukup untuk menjamin pemahaman. Karena itu, pretesting sebaiknya dipadukan dengan membaca, penjelasan dosen, latihan, pemeriksaan jawaban, dan umpan balik.

Cara melakukan pretesting untuk mahasiswa

  1. Pilih satu topik kecil. Gunakan satu subbab, konsep, atau tujuan pembelajaran sebagai fokus. Topik yang terlalu luas dapat menghasilkan pertanyaan yang tidak terarah.
  2. Buat tiga sampai lima pertanyaan singkat. Pertanyaan dapat berasal dari judul materi, capaian pembelajaran, atau hal yang ingin dipahami dalam sesi tersebut.
  3. Jawab tanpa membuka catatan. Tulis jawaban berdasarkan pengetahuan yang ada. Jangan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membuat jawaban sempurna karena tujuan tahap ini adalah memetakan pemahaman awal.
  4. Catat tingkat keyakinan. Tandai jawaban sebagai yakin, cukup yakin, atau belum yakin. Catatan ini membantu menunjukkan bagian yang perlu diperiksa, tetapi tetap harus diuji dengan jawaban yang benar.
  5. Pelajari materi secara aktif. Baca penjelasan, simak kuliah, atau kerjakan contoh yang berkaitan dengan pertanyaan. Cari alasan, definisi, hubungan, dan contoh yang dapat memperbaiki jawaban awal.
  6. Periksa dan koreksi. Bandingkan jawaban awal dengan materi atau umpan balik yang tepercaya. Tandai bagian yang benar, kurang lengkap, dan keliru. Tulis koreksi secara singkat agar perubahan pemahaman terlihat jelas.
  7. Uji kembali setelah jeda. Tutup catatan dan jawab kembali pertanyaan tersebut setelah beberapa waktu. Langkah ini membantu memastikan bahwa koreksi telah dipahami, bukan hanya dikenali ketika sedang melihat materi.

Contoh jenis pertanyaan

Pertanyaan pretesting tidak harus selalu berbentuk definisi. Variasi pertanyaan dapat membantu mahasiswa melihat materi dari beberapa sisi.

  • Definisi: Apa arti istilah atau konsep utama dalam topik ini?
  • Prediksi: Apa yang mungkin terjadi jika suatu kondisi berubah?
  • Sebab-akibat: Mengapa suatu peristiwa atau proses dapat terjadi?
  • Perbandingan: Apa perbedaan dua konsep yang tampak serupa?
  • Penerapan: Bagaimana konsep ini digunakan dalam contoh sederhana?

Jawaban awal boleh berbentuk kalimat pendek atau poin-poin. Untuk materi yang kompleks, satu pertanyaan yang jelas lebih berguna daripada banyak pertanyaan yang terlalu umum.

Contoh penerapan pada beberapa mata kuliah

Biologi

Sebelum mempelajari sistem pernapasan, mahasiswa dapat menjawab: “Apa fungsi utama pertukaran gas?” dan “Mengapa struktur organ pernapasan memengaruhi proses tersebut?” Setelah belajar, jawaban diperbaiki menggunakan istilah dan hubungan yang tepat dari materi.

Sejarah

Sebelum membaca suatu peristiwa sejarah, mahasiswa dapat memprediksi faktor yang mungkin melatarbelakanginya dan pihak-pihak yang terlibat. Setelah membaca, mahasiswa memeriksa apakah prediksinya sesuai, kurang lengkap, atau perlu dikoreksi.

Akuntansi

Sebelum mempelajari topik tertentu, mahasiswa dapat bertanya: “Apa dampak transaksi ini terhadap akun?” atau “Mengapa pencatatan dilakukan dengan cara tersebut?” Jawaban awal kemudian dibandingkan dengan contoh dan aturan yang dijelaskan dalam materi.

Metodologi penelitian

Sebelum membaca tentang variabel atau desain penelitian, mahasiswa dapat mencoba menjelaskan perbedaan variabel bebas dan variabel terikat, lalu menerapkannya pada contoh sederhana. Pemeriksaan setelah belajar membantu mengoreksi istilah yang tertukar.

Kesalahan yang perlu dihindari

  • Menganggap jawaban awal sebagai hasil akhir. Pretesting adalah pemetaan awal, bukan bukti bahwa materi telah dikuasai.
  • Tidak memeriksa jawaban. Jawaban yang salah harus segera dikoreksi melalui sumber tepercaya atau umpan balik.
  • Menggunakan terlalu banyak pertanyaan. Tiga sampai lima pertanyaan sudah cukup untuk membuka satu sesi belajar.
  • Berhenti setelah membaca. Sisihkan waktu untuk kembali menjawab pertanyaan tanpa melihat catatan.
  • Menggantikan pembelajaran utama dengan pretesting. Strategi ini tidak menggantikan penjelasan, membaca, latihan, atau pemeriksaan pemahaman.

Menjadikan pretesting bagian dari rutinitas belajar

Pretesting dapat ditempatkan pada awal sesi belajar selama beberapa menit. Setelah menentukan topik, mahasiswa menulis pertanyaan, menjawab tanpa bantuan, dan menandai tingkat keyakinan. Sisa waktu digunakan untuk mempelajari materi serta memeriksa jawaban. Di akhir sesi atau setelah jeda, pertanyaan yang sama dijawab kembali.

Kebiasaan ini membuat proses belajar lebih terarah tanpa menuntut persiapan yang rumit. Nilai utama pretesting bukan pada seberapa banyak jawaban yang benar sejak awal, melainkan pada kesempatan untuk mengenali pemahaman awal, menemukan kesalahan, lalu memperbaikinya dengan sengaja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *