Banyak mahasiswa menghabiskan waktu dengan membaca ulang catatan, menandai buku, atau menonton kembali rekaman kuliah. Aktivitas tersebut dapat membantu mengenali materi, tetapi belum tentu membuat informasi mudah dipanggil kembali saat ujian. Successive relearning untuk mahasiswa menawarkan cara belajar yang lebih aktif: materi diingat kembali, diperiksa, diperbaiki, lalu diulang pada beberapa sesi yang diberi jarak.
Strategi ini bukan sekadar mengulang sampai merasa familier. Tujuannya adalah membangun kemampuan untuk mengambil informasi dari ingatan secara akurat sekaligus mempertahankannya lebih lama. Karena itu, successive relearning dapat menjadi bagian dari rencana belajar bertahap, terutama untuk istilah, konsep, rumus, definisi, dan informasi penting yang perlu dipanggil kembali.
Apa itu successive relearning?
Successive relearning adalah gabungan antara retrieval practice atau latihan mengambil kembali informasi dari ingatan dan spaced repetition atau pengulangan bersela. Dalam satu sesi, mahasiswa mencoba menjawab pertanyaan tanpa langsung melihat catatan. Setelah itu, jawaban diperiksa menggunakan materi yang benar. Kesalahan diperbaiki, kemudian pertanyaan diulang sampai mencapai tingkat penguasaan yang telah ditentukan.
Proses tersebut tidak berhenti ketika mahasiswa berhasil menjawab pada satu kesempatan. Pada sesi berikutnya, pertanyaan yang sama atau materi yang setara kembali dipanggil dari ingatan setelah jeda. Dengan demikian, mahasiswa berlatih memperoleh pengetahuan dan mempertahankannya melalui beberapa pertemuan belajar.
Perbedaannya dengan metode belajar lain
Bukan sekadar membaca ulang
Membaca ulang membuat materi terasa akrab, tetapi rasa akrab tidak selalu berarti mampu menjelaskan atau menggunakan informasi tanpa bantuan. Dalam successive relearning, usaha mengingat dilakukan sebelum melihat jawaban. Tantangan untuk memanggil informasi inilah yang menjadi bagian penting dari latihan.
Lebih terstruktur daripada retrieval practice saja
Retrieval practice menekankan usaha menjawab dari ingatan. Successive relearning menambahkan pola pengulangan pada beberapa sesi yang diberi jarak dan kriteria penguasaan. Jadi, keberhasilan menjawab dalam satu sesi bukan akhir dari proses.
Tidak identik dengan spaced repetition
Spaced repetition menata waktu pengulangan agar tidak dilakukan sekaligus. Successive relearning juga memakai jeda, tetapi setiap pengulangan tetap berpusat pada upaya mengingat, pemeriksaan umpan balik, perbaikan kesalahan, dan pencapaian penguasaan. Pengulangan bersela tanpa usaha mengingat, misalnya hanya membaca kembali kartu, belum sepenuhnya mencerminkan strategi ini.
Cara menerapkan successive relearning untuk mahasiswa
1. Pilih materi yang dapat diuji
Mulailah dengan materi yang jawabannya cukup jelas dan dapat diperiksa. Contohnya adalah definisi, daftar istilah, fungsi bagian tubuh, tahapan proses, rumus, konsep utama, atau pertanyaan jawaban singkat. Pecah topik besar menjadi unit kecil agar latihan tidak berubah menjadi sesi membaca panjang.
2. Ubah catatan menjadi pertanyaan
Buat pertanyaan yang memaksa Anda menghasilkan jawaban. Misalnya, daripada menulis “Hukum Newton”, buat pertanyaan “Apa bunyi Hukum Newton kedua dan bagaimana bentuk rumusnya?” Untuk materi yang bersifat konseptual, tanyakan “Apa gagasan utama konsep ini?” atau “Apa perbedaan konsep A dan B?”
Pertanyaan dapat ditulis pada kartu belajar, lembar latihan, atau dokumen sederhana. Sertakan jawaban acuan yang cukup ringkas sehingga pemeriksaan dapat dilakukan dengan cepat.
3. Jawab tanpa melihat catatan
Ambil satu pertanyaan dan cobalah menjawab dengan suara atau tulisan. Jangan segera membuka materi ketika merasa ragu. Usaha mengingat tetap berguna, meskipun jawaban belum sempurna. Setelah menjawab, bandingkan dengan jawaban acuan.
4. Beri umpan balik dan catat kesalahan
Tandai bagian yang benar, kurang lengkap, atau keliru. Perbaiki jawaban menggunakan bahasa yang Anda pahami. Umpan balik sebaiknya datang segera setelah percobaan agar kesalahan tidak terus diulang. Jika sebuah pertanyaan terlalu luas, pecah menjadi beberapa pertanyaan yang lebih spesifik.
5. Ulangi sampai mencapai kriteria penguasaan
Tentukan kriteria yang realistis sebelum memulai, misalnya dapat menjawab seluruh pertanyaan dalam satu kelompok dengan benar atau dapat menjelaskan setiap istilah tanpa melihat catatan. Kriteria ini membantu Anda mengetahui kapan sesi cukup. Namun, mencapai target tersebut dalam satu sesi tidak menggantikan latihan pada sesi berikutnya.
6. Kembali pada materi setelah jeda
Pada sesi berikutnya, mulai dengan mencoba menjawab lagi tanpa mempelajari jawaban terlebih dahulu. Periksa bagian yang terlupa, beri umpan balik, dan ulangi seperlunya. Materi yang masih lemah dapat muncul lebih sering, sedangkan materi yang sudah stabil dapat ditinjau dengan jarak yang lebih panjang.
Contoh jadwal belajar yang realistis
Jadwal tidak harus padat atau seragam untuk semua mata kuliah. Contoh berikut dapat disesuaikan dengan kalender kuliah dan tingkat kesulitan materi:
- Sesi pertama: setelah mempelajari topik, buat pertanyaan lalu jawab tanpa melihat catatan. Periksa jawaban dan ulangi hingga mencapai target penguasaan.
- Sesi kedua: pada hari berikutnya, kerjakan kembali pertanyaan yang sama. Fokuskan waktu tambahan pada jawaban yang masih keliru.
- Sesi ketiga: beberapa hari kemudian, lakukan pengujian ulang dalam urutan pertanyaan yang berbeda.
- Sesi lanjutan: tinjau kembali menjelang kebutuhan evaluasi, sambil menggabungkan soal atau penerapan yang lebih kompleks.
Jeda dapat dibuat lebih pendek atau lebih panjang berdasarkan jumlah materi, sisa waktu, dan seberapa mudah informasi terlupakan. Yang penting, pengulangan dilakukan pada beberapa kesempatan, bukan dikumpulkan dalam satu sesi maraton.
Contoh penggunaan dalam beberapa mata kuliah
Dalam biologi, kartu dapat berisi nama struktur pada satu sisi dan fungsi atau penjelasannya pada sisi lain. Dalam bahasa atau hukum, pertanyaan dapat meminta definisi istilah serta contoh penggunaannya. Dalam matematika, kartu dapat menanyakan rumus dan kondisi penggunaannya, lalu latihan soal dipakai untuk menguji penerapan.
Untuk materi yang hanya membutuhkan pengenalan istilah, pertanyaan singkat mungkin sudah memadai. Namun, bila ujian menuntut analisis, pembuktian, penafsiran data, atau pemecahan masalah, latihan mengingat harus dilanjutkan dengan tugas yang menyerupai tuntutan tersebut.
Keterbatasan yang perlu diperhatikan
Successive relearning bukan jaminan nilai tinggi. Strategi ini lebih cocok untuk pengetahuan yang perlu diingat dan dipanggil kembali secara akurat. Penguasaan fakta tidak otomatis berarti mampu menjelaskan hubungan antargagasan, memilih metode yang tepat, atau menyelesaikan persoalan baru.
Bukti penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini menjanjikan untuk membantu memperoleh dan mempertahankan pengetahuan. Sejumlah penelitian pada mahasiswa dan konteks perkuliahan juga menemukan potensi peningkatan penguasaan atau performa akademik. Namun, bukti dari kelas nyata masih lebih terbatas dibandingkan bukti dari penelitian yang dikendalikan. Hasilnya dapat dipengaruhi oleh jenis materi, kualitas pertanyaan, umpan balik, tujuan ujian, serta waktu yang tersedia.
Tips agar latihan tetap efektif
- Gunakan pertanyaan yang jelas dan memiliki jawaban acuan.
- Jawab sebelum membuka catatan atau kartu.
- Jangan mengabaikan jawaban yang hampir benar tetapi masih kurang lengkap.
- Campurkan materi lama dan baru secara bertahap.
- Tambahkan latihan menjelaskan, menerapkan, menganalisis, atau memecahkan masalah sesuai tuntutan mata kuliah.
- Sesuaikan jumlah kartu dan jarak sesi dengan waktu belajar yang benar-benar tersedia.
Dengan pola tersebut, successive relearning dapat menjadi jembatan antara belajar untuk memahami materi dan belajar agar pengetahuan tetap dapat digunakan. Mulailah dari satu topik kecil, uji diri secara aktif, periksa kesalahan, lalu kembali lagi setelah jeda. Konsistensi beberapa sesi biasanya lebih berguna daripada mengandalkan satu kali membaca panjang.








